Sang Nakhoda di Arus Eksistensi:Milad, Marwah, dan Manifesto Perjuangan

PENULIS=YOPI HERWINDO

JAKARTA – Di bawah langit ibu kota yang masih menyisakan sisa-sisa gema Rapimnas ke-4, sebuah perayaan lahir bukan sekadar untuk menghitung angka usia, melainkan untuk memaknai kehadiran. Hari ini, keluarga besar Pro Jurnalismedia Siber (PJS)melangitkan doa bagi nakhodanya,Bapak Mahmud Marhaba.

Metafora Kepemimpinan: Menjadi Akar di Tengah Badai,Dalam perspektif filsafat, seorang pemimpin adalah inspirator—ia yang meniupkan ruh ke dalam jasad organisasi. Bapak Mahmud Marhaba tidak hanya berdiri di pucuk struktur sebagai Ketua Umum, namun ia hadir sebagai personifikasi dari keteguhan. Jika organisasi adalah sebuah rumah, maka beliau adalah fondasi yang memberikan rasa aman bagi para pencari kebenaran informasi.

Ucapan “Selamat Ulang Tahun” yang mengalir bukan sekadar formalitas basa-basi, melainkan pengakuan atas *marwah* yang beliau jaga. Beliau adalah pengingat bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan jalan sunyi menuju pengabdian intelektual.

Dialektika Angka: Dari 700 Menuju 865 Jiva,Bertepatan dengan milad ini, sejarah sedang ditulis di meja-meja kayu Kantor DPP PJS Kemayoran. Rapimnas ke-4 telah melahirkan sebuah dialektika yang mencengangkan. Jika awalnya kita hanya bicara tentang angka kuantitas 700, kini kesadaran kolektif dari daerah telah meledak menjadi 865 jiwa yang berkomitmen.

Angka ini bukanlah beban yang dipaksakan dari langit kekuasaan (DPP), melainkan sebuah Pakta Integritas yang lahir dari rahim kesadaran daerah. Ini adalah bukti bahwa semangat untuk menjadikan PJS sebagai Konstituen Dewan Pers bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah kehendak untuk menjadi

(the will to be).

Tiga Puluh Matahari Menuju Pembuktian,Waktu dalam filsafat sering kali menipu, namun dalam perjuangan PJS, waktu adalah hakim yang adil. 

Tersisa 30 hari—tiga puluh putaran matahari hingga tanggal 12 Juni 2026. Ini adalah masa Kairos, momen krusial di mana janji harus bertransformasi menjadi realitas.

Setiap DPD kini memikul salib tanggung jawabnya masing-masing. Dari Sumatera Selatan yang memimpin barisan dengan komitmen 100 anggota, hingga ke ujung Papua Barat Daya, setiap nama adalah batu bata bagi bangunan “Rumah Kita”.

>”Waktu tidak menunggu mereka yang ragu. Di papan kerja setiap daerah, angka-angka itu kini menatap kita, menagih janji atas kesetiaan dan kerja nyata.

Epilog: Memulangkan Jurnalisme ke Rumahnya,Perayaan hari lahir Bapak Mahmud Marhaba dan target besar ini adalah dua sisi dari satu koin yang sama: Kehormatan. Kita tidak hanya sedang mengumpulkan Formulir A1 dan A2, kita sedang mengumpulkan potongan-potongan integritas untuk membangun masa depan jurnalisme siber yang bermartabat.

Kepada Bapak Mahmud Marhaba, selamat merayakan kehidupan. Dan kepada seluruh pejuang PJS, selamat merayakan perjuangan.

Waktu sedang berjalan. Dan sejarah sedang menanti siapa yang akan tetap berdiri tegak di garis akhir.

Esensi Kepemimpinan: Menempatkan sosok Bapak Mahmud Marhaba bukan sekadar sebagai pejabat struktural, melainkan sebagai “jangkar ontologis” bagi para jurnalis di bawah naungan PJS. Milad beliau dimaknai sebagai momentum refleksi atas waktu dan kontribusi.

Dialektika Angka: Menafsirkan perubahan target anggota dari 700 menjadi 865 bukan sebagai beban administratif, melainkan sebagai Lebenswillen (kehendak untuk hidup dan berkembang) yang muncul secara organik dari semangat daerah.

Waktu sebagai Hakim: Menekankan urgensi 30 hari ke depan menggunakan konsep Chronos (waktu yang terus berjalan) dan Kairos (momentum yang tepat), di mana setiap pengurus daerah diuji kesetiaan dan marwahnya melalui realisasi komitmen yang telah disepakati.

 

Jakarta, 15 Mei 2026

Dewan Pimpinan Pusat

Pro Jurnalismedia Siber (PJS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *