Merajut Wajah Mentok: Antara Bayang-Bayang Sejarah dan Ironi Batu Bata

OPINI

Penulis: Yopi Herwindo 

MENTOK,BN16BANGKA—Di bawah langit Mentok yang menyimpan desau angin Selat Bangka, sebuah narasi besar sedang dipahat.

Revitalisasi Kota Tua Mentok: Wajah Baru atau Luka Baru?Pertanyaan itu bukan sekadar deretan kata di atas spanduk, melainkan sebuah dialektika yang menghujam jantung eksistensi kota ini. 

Proyek revitalisasi, khususnya pada Klaster Eropa, kini berdiri di persimpangan jalan antara memuliakan masa lalu atau justru menguburnya di bawah tumpukan semen yang asing.

Mentok bukanlah sekadar titik koordinat di peta Bangka Barat; ia adalah sebuah palimpsest—sebuah naskah kuno yang tulisannya ditumpuk berkali-kali namun jejak aslinya tetap membekas. Di sini, nafas Melayu yang bersahaja, keteguhan arsitektur Cina, dan kemegahan kolonial Eropa pernah hidup berdampingan dalam harmoni yang sunyi.

Ketika mesin-mesin mulai menderu di kawasan Klaster Eropa, muncul kegelisahan yang filosofis:Apakah kita sedang merawat memori, atau sedang menciptakan kepalsuan yang indah?

Esensi Klaster yang Memudar Keberadaan Rumah Melayu dan arsitektur Cina yang dianggap “tidak sesuai klaster” oleh sebagian pihak memicu diskursus tentang kemurnian sejarah. Sejarah tidak pernah bergerak dalam kotak-kotak yang steril. 

Memisahkan mereka secara kaku justru berisiko mencabut akar kosmopolitanisme Mentok yang asli.

Pohon Tua sebagai Saksi Bisu: Penebangan pohon tua yang berstatus ODCB (Objek Diduga Cagar Budaya) adalah sebuah tragedi ontologis. 

Pohon itu adalah “perpustakaan hidup” yang telah menghirup oksigen sejarah jauh sebelum kita lahir. Menebangnya demi “estetika visual” adalah bentuk pengkhianatan terhadap waktu.

Memilih Tidak Diam: Sebuah Manifestasi Tanggung Jawab,Dalam keriuhan proyek ini, kami memilih untuk tidak menjadi penonton yang pasif. 

Sikap ini bukanlah sebuah upaya untuk menggagalkan, melainkan sebuah bentuk cinta yang kritis. 

Seperti kata para filsuf, kebenaran seringkali muncul dari pertentangan ide yang sehat,Kami mengawasi bukan dengan kebencian, tapi dengan ketelitian. 

Ada tiga pilar kesuksesan yang menjadi tuntutan kami:

1.Sukses Anggaran: Uang rakyat adalah tetes keringat kolektif. Ia harus menjelma menjadi manfaat nyata, bukan sekadar angka yang raib di balik laporan administratif.

2.Sukses Hukum: Estetika tidak boleh berdiri di atas pelanggaran regulasi. Perda Klaster dan perlindungan cagar budaya adalah pagar moral yang menjaga kota ini dari keserakahan.

3.Sukses Warisan (Legacy):Apa yang kita bangun hari ini adalah surat cinta yang kita kirimkan untuk anak cucu Mentok di masa depan. Jangan sampai mereka hanya mewarisi replika yang dingin tanpa jiwa.

Simbolisme patung Soekarno yang telah dibangun serta pertanyaan tentang “restu” politik di baliknya mengingatkan kita bahwa kota selalu menjadi panggung kekuasaan. Namun, Mentok lebih besar dari sekadar panggung politik. Ia adalah rumah bagi identitas yang kompleks.

Revitalisasi seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan kerinduan masa lalu dengan kebutuhan masa depan. Jika proyek ini hanya mengejar “Wajah Baru” yang artifisial tanpa menyentuh substansi sejarahnya, maka yang tersisa hanyalah “Luka Baru” yang akan terus menganga.

Kami akan terus berdiri di sini, mengawasi setiap jengkal perubahan, memastikan bahwa Mentok tetap menjadi Mentok—sebuah kota di mana sejarah tidak hanya diceritakan, tapi dirasakan dalam setiap hembusan anginnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *