Persiapkan Retribusi Digital, BI Babel dan Pemkab Bangka Barat Sosialisasi QRIS Gratis untuk Pedagang

MENTOK, BANGKA BARAT — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar kegiatan Sosialisasi Edukasi “Pasar Mentok Siap QRIS”. Senin 27-Juli-2026

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Road to Babel Digifes: Pekan QRIS Nasional 2026 ini menyasar sekitar seratus peserta yang terdiri dari pedagang pasar, masyarakat umum, hingga petugas lapangan operasional pasar.

Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Bangka Barat, Hanson Riyadi, menegaskan bahwa sosialisasi ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat gerakan digitalisasi pembayaran non-tunai di pasar rakyat.

“Melalui momentum ini, kita mendorong gerakan digitalisasi pembayaran non-tunai melalui QRIS di pasar rakyat. Keuntungannya sangat banyak: mengurangi risiko kehilangan uang tunai maupun peredaran uang palsu, transaksi lebih praktis tanpa perlu repot menyiapkan uang kembalian, serta pencatatan keuangan pedagang menjadi lebih teratur,” ujar Hanson.

Hanson memaparkan tiga poin utama manfaat penerapan QRIS bagi ekosistem pasar:

Inovasi Usaha Kecil dan Menengah: Membantu pedagang pasar tradisional naik kelas dengan sistem pembayaran modern yang terintegrasi.

Akuntabilitas & Optimalisasi Daerah: Mendorong transparansi transaksi yang berpotensi meningkatkan efisiensi dan tata kelola retribusi daerah.

Keamanan & Kemudahan Pembeli: Memberikan kenyamanan lebih bagi konsumen yang kian terbiasa bertransaksi digital.

Ia juga menekankan bahwa program ini bukanlah sebuah pemaksaan, melainkan bentuk investasi bersama dalam memajukan perekonomian daerah serta memperkuat daya saing pasar rakyat di Kabupaten Bangka Barat.

Mendorong Retribusi Digital dan Meluruskan Mitos Transaksi Non-Tunai

Sementara itu, Kepala Unit Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran BI Babel, Ardi Pratama, menjelaskan bahwa kegiatan edukasi ini dirancang untuk menyiapkan fondasi digitalisasi daerah, khususnya terkait retribusi pasar.

“Tujuan utamanya adalah mempersiapkan pedagang dan masyarakat agar terbiasa bertransaksi non-tunai menggunakan QRIS. Ketika pedagang sudah terbiasa dengan aplikasi dan fiturnya, pemerintah daerah memiliki modal kuat untuk menerapkan pemungutan retribusi pasar secara digital,” jelas Ardi saat ditemui di Pasar Mentok.

Dalam kesempatan tersebut, BI Babel juga meluruskan sejumlah kekhawatiran dan persepsi keliru yang kerap beredar di tengah masyarakat mengenai transaksi digital, seperti isu biaya pendaftaran hingga keraguan aliran dana.

“Kami ingin menegaskan bahwa penggunaan dan pendaftaran QRIS itu gratis. Kami coba luruskan kekhawatiran masyarakat, seperti isu potongan biaya besar, uang tidak langsung masuk, atau pemantauan pajak. BI tidak mewajibkan, tetapi mendorong agar masyarakat siap bersaing di tingkat yang lebih luas,” tegas Ardi.

Potensi Wisata dan Dukungan QRIS Cross-Border,Selain edukasi QRIS, tim Unit Penyelenggaraan Uang Rupiah BI Babel turut membekali peserta dengan sosialisasi perlindungan konsumen serta gerakan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.

Lebih lanjut, Ardi mengaitkan keunggulan QRIS dengan potensi pariwisata Bangka Belitung, khususnya Mentok yang kaya akan sejarah seperti destinasi Pesanggrahan Menumbing. 

Fitur QRIS Cross-Border saat ini memungkinkan transaksi langsung dari wisatawan mancanegara asal Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Jepang, hingga Cina.

“Berbeda dengan sistem pembayaran global lainnya, QRIS merupakan sistem mandiri berbasis kerja sama bilateral antarnegara yang servernya berada di Indonesia. Jadi ketika turis asing bertransaksi di pedagang pasar lokal, prosesnya langsung antar kedua negara,” pungkasnya.

 

Liputan oleh: BN16BANGKA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *