
BANGKA BARAT, BN16BANGKA— Dalam ketatnya ritme tugas penegakan hukum di Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polres Bangka Barat, dinamika penanganan perkara menuntut ketelitian serta fokus yang tinggi. Namun, di balik seragam dan kompleksitas tugas kepolisian, ada ruang sunyi yang dipilih oleh Briptu Bano Bayu Aji untuk merawat keseimbangan hidup: seni memelihara dan melatih burung berkicau.
Bagi Briptu Bano, hobi ini bukan sekadar pengisi waktu luang atau pelarian dari kesibukan dinas. Lebih dari itu, merawat burung Murai Batu yang ia beri nama “Ananda”—adalah sebuah proses perenungan tentang filosofi kesabaran, kedisiplinan, dan konsistensi. Sebuah ritme yang secara tidak langsung menyelaraskan intuisi serta ketenangan jiwa dalam menjalankan tugas-tugas kepolisian.
“Merawat burung berkicau itu mengajarkan kita arti peka terhadap hal-hal kecil.
Kita tidak bisa memaksa burung bernyanyi indah tanpa memahami karakternya, memberinya perhatian yang pas, dan konsisten merawatnya. Ada proses panjang yang tidak bisa diinstankan,” tutur Briptu Bano.
Prestasi yang Lahir dari Dedikasi,Filosofi telaten tersebut membuahkan hasil nyata.
Burung kesayangannya, Ananda, kini menjelma menjadi salah satu amunisi Murai Batu yang disegani dalam berbagai arena kontes kicau mania, baik di tingkat kabupaten maupun lintas wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Deretan piagam penghargaan dan piala juara kerap disabet oleh Ananda dalam berbagai tingkatan kelas, seperti:
Juara 1 Latpres Hino Ceria di Hino Arena, Pangkalpinang (Kelas MB Pastol Gabek, April 2026).
Juara 2 Latpres Hino Ceria (Kelas MB Junior Gabek, April 2026).
Juara 1 Event Road to SH Cup (Kelas MB Junior Jawara).
Juara 9 dalam ajang bergengsi Lomba Burung Berkicau Bhayangkara Cup Polda Babel (Kelas Bhayangkara).
Pencapaian ini mencerminkan bagaimana konsistensi di luar jam dinas mampu melahirkan prestasi positif tanpa mengganggu loyalitas utama sebagai anggota Polri.
Keberhasilan Briptu Bano merawat Ananda hingga meraih podium jawara memberikan sudut pandang tersendiri mengenai sisi humanis seorang aparat penegak hukum. Di satu sisi, ia berdiri tegak menjalankan amanah konstitusi menjaga ketertiban masyarakat; di sisi lain, ia menyatu dengan alam melalui alunan kicau burung yang menentramkan.
Kisah ini menegaskan bahwa keahlian dan keindahan bisa tumbuh bersisian dengan ketegasan tugas.
Melalui ketelatenan merawat Ananda, Briptu Bano membuktikan bahwa kesabaran yang ditempa dalam kesederhanaan hobi justru memperkaya jiwa dan kedewasaan dalam mengabdi.
