
Tanjung Api, Palembang– Tradisi mudik yang seharusnya penuh kehangatan berubah menjadi mimpi buruk bagi Nabila Lestari. Ibu tunggal (single parent) asal Pangkal Pinang ini harus menelan pil pahit setelah koper berisi uang tunai jutaan rupiah dan barang berharga miliknya diduga “disikat” dengan modus tukar barang di atas kapal Dharma Kartika 8, Senin (23/03/2026).
Kronologi: Bukti Foto Tak Berdaya Melawan Celah Keamanan,Peristiwa bermula saat Nabila bersama putri bungsunya bertolak dari Pangkal Pinang menggunakan bus DAMRI dan tiba di Pelabuhan Tanjung Kalian, Mentok, pukul 10.15 WIB. Setelah proses check-in, ia menaiki kapal Dharma Kartika 8 menuju Pelabuhan Tanjung Api-Api.
Sadar akan risiko, Nabila sempat bertindak cerdik dengan memotret koper merah mudanya yang diletakkan di bawah tangga kapal sebagai bukti dokumentasi.
Namun, dokumentasi tersebut seolah tak berarti di tengah hiruk-pikuk kapal saat bersandar. Dalam kondisi penumpang yang berdesakan keluar, di situlah eksekusi “penukaran” barang diduga terjadi.
Isi Koper Diganti Pakaian Lusuh,Nabila baru menyadari nasib nahasnya saat tiba di penginapan kawasan PTC Palembang pukul 20.30 WIB. Kunci koper yang sudah terbuka menjadi pertanda awal petaka.
“Saya langsung lemas dan shock. Isinya hanya baju-baju wanita yang sudah tidak layak pakai, bukan milik saya,” ungkap Nabila dengan nada bergetar saat memberikan keterangan, Kepada Redaksi BN16BANGKA Selasa (24/03).
Kerugian materil yang dialami korban pun tidak sedikit, meliputi:
Uang Tunai THR: Rp2.350.000,- yang sedianya untuk merayakan Lebaran.
Barang Bermerek: Baju Erigo, gamis asal Mekkah, mukena, dan pakaian anak-anak senilai jutaan rupiah.
Barang Kenangan: Oleh-oleh parfum dari Mekkah dan perlengkapan pribadi lainnya.
Sorotan Tajam: Lemahnya Pengamanan dan “Sikap Dingin” Petugas,Kasus ini menyisakan kekecewaan mendalam terhadap kru kapal Dharma Kartika 8.
Informasi mengejutkan muncul dari salah satu kru yang mengaku sempat melihat seorang wanita membawa koper merah muda milik korban. Wanita tersebut sempat berdalih “salah ambil,” namun anehnya, petugas justru membiarkannya pergi begitu saja tanpa verifikasi lebih lanjut.
“Saya sangat menyesalkan mengapa pihak kapal tidak menahan wanita itu. Petugas justru terkesan menyalahkan saya, dianggap teledor,” cetus Nabila kecewa.
Kekacauan di Tanjung Api-Api: Penumpang vs Penjemput Luar
Selain masalah di atas kapal, sistem pengamanan di Pelabuhan Tanjung Api-Api juga menjadi sorotan merah. Berdasarkan pantauan, kondisi pelabuhan saat kapal sandar sangat semrawut.
Bukan karena penumpang dipaksa turun, melainkan karena minimnya sterilisasi area.
Penumpang pejalan kaki yang hendak turun justru terhambat dan terhimpit oleh kerumunan orang dari luar kapal yang merangsek masuk ke area dermaga. Kondisi chaos ini diduga menjadi celah empuk bagi pelaku kejahatan untuk menghilang di tengah kerumunan tanpa terdeteksi petugas.
**Menanti Nyali Pengelola Kapal dan ASDP**
Hingga Selasa (24/03/2026), belum ada tindakan nyata dari pihak ASDP maupun pengelola Dharma Kartika 8.
Publik kini mendesak dibukanya rekaman CCTV secara transparan untuk mengidentifikasi apakah pelaku merupakan penumpang yang benar-benar “salah ambil” atau bagian dari sindikat spesialis mudik.
Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi otoritas pelabuhan. Keamanan pemudik bukan sekadar urusan tiket, melainkan perlindungan hak atas barang dan keselamatan hingga sampai ke tujuan.
(YPH)
