Ujian Profesionalisme: Redaksi BN16 Tantang KMR Buktikan Kompetensi dan Legalitas Pers

MENTOK – Tensi ketegangan di ruang publik Bangka Barat meningkat menyusul polemik yang menyeret nama inisial KMR. Setelah munculnya pemberitaan bertajuk “Lempar Batu Sembunyi Tangan, Yang Makan Uang Tambang Tembelok Siapa Sih?”, gelombang kritik tajam kini berbalik menyerang sosok di balik narasi tersebut.

Pihak redaksi BN16 Bangka bersama KBO Babel secara tegas membantah tudingan mengenai ketidakjelasan badan hukum media mereka. Pihak redaksi menyatakan kesiapan penuh untuk menunjukkan legalitas resmi perusahaan pers mereka guna menepis anggapan miring yang beredar.

**Transparansi Data vs Opini Publik**

Menanggapi isu “siapa yang menikmati hasil tambang Tembelok,” perwakilan media menegaskan bahwa penulisan berita didasarkan pada data konkret yang diperoleh dari percakapan internal suatu grup.

“Kami menulis sesuai data. Faktanya, yang menyebutkan adanya aliran dana tersebut adalah sesama anggota kelompok mereka sendiri. Jadi, merekalah yang sebenarnya paling tahu siapa yang makan atau tidak,” ujar sumber dari redaksi BN16.

**Jejak Digital dan Pertanyaan Legalitas Utama**

Isu ini berkembang menjadi serangan terhadap kredibilitas personal KMR. Masyarakat di Mentok mulai menyoroti rekam jejak KMR yang dianggap kontroversial. 

Istilah “Wartawan Bodrex” mencuat seiring dengan penelusuran jejak digital yang bersangkutan.

Berdasarkan keterangan warga berinisial Rik, terdapat keraguan besar mengenai kemampuan dasar jurnalistik KMR.

 * Latar Belakang: KMR disebut pernah berprofesi sebagai kuli bangunan (pemasang genteng di Wisma Ranggam).

* Pendidikan: Muncul dugaan pendidikan formal yang minim (diduga tidak tamat SMP), yang memicu pertanyaan mengenai pemenuhan syarat sebagai profesi intelektual.

* Kompetensi: “KMR itu sebenarnya tidak bisa menulis. Dia diduga bertameng di balik oknum Humas Yang anaknya jadi LC Hiburan Malam,” ungkap Rik kepada awak media.

**Dugaan Konflik Kepentingan dan “Sisi Gelap”**

Lebih jauh, muncul isu mengenai dugaan hubungan kedekatan KMR dengan seorang oknum Humas yang identitasnya masih ditelusuri. 

Isu ini semakin keruh dengan adanya selentingan mengenai “sisi gelap” keluarga yang melibatkan anggota keluarga oknum tersebut dalam profesi hiburan malam (LC).

**Desakan Cek dan Ricek ke Dewan Pers**

Atas kegaduhan ini, sejumlah pihak mendesak Dewan Pers untuk melakukan verifikasi faktual terhadap oknum-oknum yang mengaku wartawan namun tidak memiliki kompetensi dasar atau sertifikasi.

Hal ini dirasa penting guna menjaga marwah jurnalisme agar tidak “dilacurkan” oleh pihak-pihak yang hanya ingin mencari keuntungan pribadi dari isu-isu sensitif seperti pertambangan.

“Profesi wartawan adalah profesi mulia dan intelektual. 

Jangan sampai dicemari oleh oknum yang tidak jelas latar belakang pendidikan dan etikanya,” tutup pernyataan tersebut.

 

(YPH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *