BN16 BANGKA.COM
BELINYU – Dunia pendidikan di Kecamatan Belinyu kembali tercoreng. Aktivitas tambang timah ilegal jenis “user-user” atau suntik terpantau beroperasi secara bebas tepat di samping gedung sekolah SMKN 1 Belinyu, Jalan Raya Parit 2, Simpang Tiga, Bukit Ketok.
Ironisnya, aktivitas yang merusak lingkungan ini diduga merambah lahan hibah milik sekolah yang masuk dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah.
Ancaman Bangunan Ambles dan Banjir
Keresahan warga dan pihak terkait kian memuncak.
Salah satu narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap keselamatan siswa dan aset negara.
“Selain mengganggu aktivitas belajar karena suara bising, kami takut pengaruh ke struktur bangunan. Bisa-bisa sekolah ambles kalau tanah di bawahnya terus disuntik.
Belum lagi musim hujan begini, sekolah bisa hancur diterjang banjir kalau lahan resapannya habis dibabat tambang,” keluh sumber tersebut kepada tim media.
>
Aktivitas Terang-terangan di Jam Sekolah
Berdasarkan pantauan di lapangan, para penambang dengan leluasa bekerja sejak pagi hari saat kegiatan belajar mengajar (KBM) sedang berlangsung.
Hal ini memicu pertanyaan besar bagi masyarakat: Mengapa pihak sekolah terkesan tutup mata dan tidak memberikan teguran tegas?
Ketidaktegasan pihak sekolah ini memicu spekulasi liar di tengah masyarakat mengenai adanya “main mata” antara pihak pengelola tambang dan oknum di dalam sekolah.
Dugaan Aliran Dana ke Oknum Sekolah
Informasi yang berhasil dihimpun, aktivitas tambang ini diduga dikoordinir oleh seorang pria berinisial EG. Ia disinyalir menjadi sosok “kepala geng” yang mengumpulkan dana dari para penambang lain.
Mirisnya, beredar kabar bahwa dana yang dikumpulkan oleh EG tersebut diduga disetorkan kepada oknum pihak sekolah sebagai “uang koordinasi” agar aktivitas ilegal tersebut tetap berjalan mulus tanpa gangguan.
Hingga berita ini diturunkan, tim masih berupaya mengonfirmasi pihak SMKN 1 Belinyu dan aparat penegak hukum setempat untuk meminta klarifikasi terkait pembiaran tambang di lahan pendidikan tersebut.
Masyarakat mendesak agar pihak berwajib segera menindak tegas tanpa pandang bulu sebelum fasilitas pendidikan benar-benar hancur.
