Sajak Pelapor di Bumi Serumpun Sebalai

BN16BANGKA.COM

Di ufuk timur, Bangka Belitung,Musim laporan kini berdetak, bukan denting hujan.

 

Bukan kisah nelayan merangkai jaring,

Namun drama hukum yang menyelimuti ranah.

 

Di pentas kekuasaan, tersaji babak ganjil:

Sang Gubernur terlapor, di bawah sorot mata publik yang lelah.

 

Sang Wakil Gubernur pun turut, dalam daftar nama yang serupa,Seolah takdir mengikat mereka dalam satu alur cerita yang pedih.

 

Lalu, suara dari lembah dan bukit pun menggema:

Masyarakat yang terlapor, masyarakat yang melapor,Saling silang sengkarut, dalam pusaran komflik panas yang membara.

Setiap aduan adalah serpihan hati yang tercederai,Setiap balasan adalah cermin dari kepercayaan yang retak.

 

Seruan dari Pintu Nurani: Panggilan Persatuan

Di tengah badai yang memecah ketenangan,Sebuah suara lantang hadir, merangkul asa yang hilang.

Raden Bambang, nakhoda dari Corruption Investigation Committee (CIC),

Menegakkan tiang panji, bukan untuk berperang, namun untuk berdamai.

 

“Wahai sanak, masyarakat Bangka Belitung, di bawah langit yang sama,”

> Serunya, nadanya adalah doa yang terucap di bibir fajar.

 

 

“Hentikan sejenak riuh laporan dan balasan dendam.

> Bersatu, mari kita rajut kembali kain yang robek ini.”*

 

Bukan lagi tentang siapa yang benar, atau siapa yang salah,

Namun tentang mimpi bersama: Kesejahteraan masyarakat.

Sebuah janji yang harusnya menjadi irama pembangunan,Bukan nyanyian sumbang di ruang sidang yang dingin.

 

CIC berdiri, bukan hanya sebagai mata hukum yang tajam,Namun sebagai pengingat: Bahwa di atas segala kekisruhan,Ada Babel yang menanti tangan-tangan tulus untuk membangun,

Menuju hari esok, tempat laporan adalah kabar baik, bukan berita buruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *