Luka di Rahim Bukit Layang: Kala Timah Menjadi Kiblat Serakah dan Rakyat Menjadi Tumbal

BN16 BANGKA.COM

 

PENULIS: YOPI HERWINDO

 

BANGKA — Di bawah naungan langit Kabupaten Bangka yang kian muram, sebuah prahara tengah berkecamuk di atas tanah Desa Bukit Layang, Kecamatan Bakam. Di sana, di hamparan Hijau Guna Usaha (HGU) milik PT Gunung Maras Lestari (GML), harmoni alam kini terkoyak oleh deru mesin dan kerakusan manusia.

 

Tok Gun, sang suluh masyarakat yang suaranya masih bergema di antara pepohonan sawit, kini berdiri di garda terdepan.

 

Dengan tatapan tajam yang menyimpan duka, ia menyoroti bagaimana lokasi Kepala Burung telah berubah menjadi palagan nestapa—sebuah ladang masalah yang disemai oleh ketamakan.

 

Simfoni Penyamun di Balik “Kepala Burung”

 

Bukan lagi sekadar desas-desus, namun sebuah realita pahit bahwa tambang timah di wilayah tersebut diduga kuat telah jatuh ke dalam cengkeraman para cukong dan segelintir oknum warga.

 

Mereka, para perampok berbaju kepentingan, kian beringas menjarah apa yang tersisa dari rahim bumi Serumpun Sebalai.

 

“Timah, lada, kebun sawit, hingga hutan yang sunyi… semuanya habis dilumat api keserakahan. Semua ini bermula dari kilau timah yang membutakan mata batin,” bisik angin di sudut Bukit Layang.

>

Panggung Sandiwara: Maling Teriak Maling

Di tengah konflik warga yang kian meruncing, sebuah lakon tragis sedang dipentaskan. Tok Gun mencium aroma busuk dari strategi “maling teriak maling”.

 

Di saat para pemegang kendali mengeruk keuntungan di balik bayang-bayang, mereka dengan licin melakukan gerakan cuci tangan.

 

* Peluang Besar: Atas nama individu tertentu, kekayaan alam ini dieksploitasi tanpa ampun.

 

* Kambing Hitam: Rakyat kecil yang terhimpit keadaan kerap dijadikan tumbal, dikambinghitamkan atas dosa-dosa para penguasa modal yang tak tersentuh.

 

Tanah yang Menangis

Kini, Bukit Layang bukan lagi sekadar nama desa yang tenang. Ia adalah saksi bisu bagaimana persaudaraan terkoyak demi butiran pasir hitam.

 

PT GML, yang seharusnya menjadi ladang penghidupan yang teratur, kini terseret ke dalam pusaran konflik yang dipicu oleh tangan-tangan dingin para cukong.

 

Tok Gun mengingatkan, jika jeritan tanah ini terus diabaikan, maka “Kepala Burung” hanya akan menyisakan bangkai peradaban, di mana kejujuran telah mati dan keadilan hanyalah dongeng pengantar tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *