Bogor, BN16-Bangka.com – Di tengah arus transformasi teknologi yang kian kencang, tantangan memimpin sebuah daerah kini melampaui sekadar pembangunan fisik. Fokus utama kini beralih pada perombakan mentalitas birokrasi: transisi dari budaya “Asal Bapak Senang” (ABS) menuju kepemimpinan yang transparan, terukur, dan berbasis data. Kamis (12/02/2026).

Digitalisasi sebagai Instrumen Kejujuran Kepemimpinan di era digital bukan hanya soal pengadaan perangkat canggih, melainkan tentang membangun ekosistem di mana kebenaran informasi tidak bisa dimanipulasi.
Dengan sistem yang terintegrasi, setiap kebijakan tidak lagi diambil berdasarkan laporan normatif yang “mempercantik” keadaan, melainkan berdasarkan realitas di lapangan yang terekam secara sistematis.
“Digitalisasi adalah musuh alami dari budaya ABS. Dalam sistem yang transparan, angka tidak bisa berbohong untuk menyenangkan atasan. Inilah fondasi utama untuk membangun kepercayaan publik,” ujar M. Iqbal Gerakan Mahasiswa Dan Pemuda Bogor.
Tiga Pilar Transformasi Birokrasi Baru
Untuk memutus rantai feodalisme birokrasi, terdapat tiga langkah strategis yang diterapkan dalam masa kepemimpinan saat ini:
• Pengambilan Keputusan Berbasis Data (Data-Driven): Kebijakan publik dirumuskan melalui analitika data yang akurat, sehingga meminimalisir subjektivitas laporan bawahan.
• Ruang Kritik Terbuka: Pemanfaatan platform digital sebagai saluran aspirasi warga secara langsung, yang berfungsi sebagai kontrol sosial sekaligus penyeimbang laporan internal birokrasi.
• Meritokrasi Digital: Penilaian kinerja aparatur sipil berdasarkan indikator performa utama (KPI) yang tercatat dalam sistem, bukan berdasarkan kedekatan personal atau sekadar kepatuhan buta.
Membangun Warisan Integritas
Menghapus budaya ABS memang memerlukan keberanian untuk menerima fakta pahit di lapangan.
Namun, kepemimpinan yang sehat adalah yang lebih menghargai staf yang berani menyampaikan kendala daripada mereka yang hanya pandai merangkai kata-kata pujian.
Era digital menuntut pemimpin yang adaptif, namun tetap berpegang teguh pada nilai integritas.
Dengan hilangnya budaya “asal bapak senang”, diharapkan efektivitas pembangunan daerah meningkat secara signifikan dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sumber: M.Iqbal
(Ros.H)
