kegelisahan pemuda PALI. Dua Arus dari Tanah Ibu: Risalah Perlawanan Hadi dan Abu Rizal

 Penulis: Yopi Herwindo

JAKARTA — Di bawah langit Jakarta yang muram oleh rintik hujan, dua raga berdiri tegak membawa napas dari jauh—dari tanah yang mereka sebut rumah. Hadi Prasmana, putra yang lahir dari rahim Tanah Abang Jaya, dan Abu Rizal, pemuda berdarah Curup, kini melangkah di atas aspal ibu kota.

 

Mereka bukan sekadar membawa angka-angka anggaran, melainkan membawa martabat rakyat Kabupaten PALI yang selama ini terselip di balik tumpukan dokumen birokrasi.

Filosofi Perlawanan: Antara Diskresi dan Keadilan
Bagi Hadi dan Abu Rizal, pengadaan kendaraan dinas bukanlah sekadar soal logam dan mesin. Secara filosofis, kendaraan adalah simbol “perjalanan”. Namun, ketika kendaraan itu dibeli dengan mengabaikan nurani publik, ia menjadi simbol perjalanan yang menyimpang dari mandat rakyat.

 

“Diskresi yang tanpa batas adalah lonceng kematian bagi akuntabilitas. Jika kekuasaan menggunakan tameng kebijakan untuk menutupi kejanggalan, maka logika publik sedang dipaksa untuk tidur dalam gelap,” ujar Abu Rizal di depan gedung merah putih KPK.
>
Mereka memahami bahwa kekuasaan seringkali bersifat cair, namun jika terlalu cair, ia akan meluap dan menghanyutkan hak-hak dasar masyarakat.

Kehadiran Aliansi Pemuda Peduli PALI (AP3) di Jakarta adalah sebuah upaya untuk membendung luapan tersebut.

Sastra di Balik Aksi: Suara dari Dusun ke Jantung Kota
Hadi Prasmana, dengan ketenangan khas pemuda dari tanah leluhurnya, berdiri sebagai penyeimbang.

Baginya, kritik kepada pemerintah PALI adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta. Ia percaya bahwa pemimpin adalah cermin, dan jika cermin itu buram oleh pola anggaran yang keliru, maka tugas anak mudalah untuk membersihkannya.
Perjalanan dari PALI ke Jakarta bukanlah perjalanan wisata, melainkan ziarah keadilan.

Mereka menembus batas geografis untuk memastikan bahwa suara petani di pelosok Curup dan pedagang di Tanah Abang Jaya tidak hanya berhenti di telinga pejabat daerah, tapi bergema di jantung penegakan hukum nasional.

Puisi: Nafas Anak Muda di Gerbang Merah Putih

Oleh: Gema AP3

Di rahim Tanah Abang Jaya, doa ibu menjadi bekal,Di pelukan Curup, mimpi keadilan kian mengkristal.

Hadi dan Abu Rizal, dua nama dalam satu nawaitu,Melangkah di antara gedung pencakar langit yang membatu.

Mereka bicara tentang mobil yang melaju di atas luka,Tentang anggaran yang dipola, seolah rakyat tak punya mata.

“Diskresi,” katanya, menjadi mantra pembenaran,Namun di tangan mereka, itu hanyalah bungkus kepalsuan.

Hujan Jakarta tak mampu membasuh api di dada,Sebab PALI bukan sekadar titik di atas peta.Ia adalah darah, ia adalah martabat yang harus dijaga,Agar esok lusa, anak cucu tak mewarisi contoh yang cela.

Di gerbang KPK, janji diikrarkan dengan lantang,Bahwa kebenaran takkan bisadijinakkan dengan uang.

Hadi dan Abu Rizal, saksi zaman yang terus berlari,Menjaga cahaya tetap benderang di bumi PALI.

Kesimpulan

Aksi ini menegaskan bahwa regenerasi perjuangan di Kabupaten PALI telah lahir. Melalui Hadi Prasmana dan Abu Rizal, AP3 mengirimkan pesan kuat: bahwa kebenaran tetaplah kebenaran, meski ia harus diteriakkan di tengah riuh rendahnya hiruk-pikuk Jakarta. Mereka adalah pengingat, bahwa kekuasaan hanyalah pinjaman, dan rakyat adalah pemilik sah atas setiap rupiah yang digunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *