Sumsel, BN16-Bangka.com – Di negeri yang gemar berkoar soal perang terhadap korupsi, ironi justru lahir dari dapur penegakan hukum itu sendiri. Anggota Komisi III DPR RI, M. Nasir Djamil, membuka tabir pahit: jaksa, garda terdepan penjaga uang negara, ternyata masih berjibaku dengan urusan paling mendasar—ongkos pulang kampung.

Bayangkan, institusi yang berhasil mengembalikan triliunan rupiah ke kas negara, justru memiliki aparat yang harus mengencangkan ikat pinggang demi bertahan hidup di daerah terpencil dan wilayah kepulauan.
“Uang yang mereka terima itu tidak cukup. Bahkan untuk pulang kampung dan kembali ke daerah tugas saja mereka tidak punya kemampuan keuangan yang cukup,” ujar Nasir Djamil, seolah menampar logika negara yang gemar menghitung tapi lupa membagi.
Triliunan Masuk, Aparat Tetap ‘Kering’
Pada 2025, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kejaksaan Agung tercatat meroket hingga Rp19,8 triliun—733 persen dari target.
Angka fantastis itu mayoritas berasal dari keberhasilan Kejaksaan menyelamatkan aset dan uang negara dari tangan koruptor.
Namun ironisnya, prestasi spektakuler itu tak otomatis mengalir ke kesejahteraan para jaksa. Negara tampak piawai menepuk dada saat uang kembali, tapi pelit saat harus menepuk bahu aparat yang mengembalikannya.
Penjaga Uang Negara, Tapi Tak Dijaga Negara
Nasir Djamil menegaskan, kesejahteraan jaksa bukan sekadar isu gaji, tapi soal martabat penegakan hukum. Bagaimana mungkin profesionalisme diminta maksimal jika kebutuhan dasar saja masih menjadi masalah?
“Sudah saatnya pemerintah memperhatikan kesejahteraan para jaksa. Prestasi dan keberhasilan kejaksaan itu sangat besar,” tegas politisi PKS tersebut.
Negara Hemat di Tempat yang Salah
Di tengah gencarnya slogan reformasi birokrasi dan perang korupsi, kisah jaksa yang kesulitan ongkos perjalanan tugas justru terasa seperti satire kebijakan. Negara rela kehilangan ratusan triliun akibat korupsi, tapi gamang mengalokasikan anggaran layak untuk orang-orang yang memerangi kejahatan itu.
Jika penjaga kas negara saja harus berhemat untuk pulang kampung, maka pertanyaannya sederhana: negara ini sedang menghemat, atau sedang lupa siapa yang sebenarnya berjasa?
(*/Red/Luise).
