Bom Waktu di Lubuk Besar: Motor Pengerit Meledak, Nyawa Konsumen SPBU Jadi Taruhan

LUBUK BESAR – Aroma bensin yang menyengat berubah menjadi petaka di SPBU Jalan Raya Lubuk Besar, Desa Perlang, Sabtu (07/02). Sebuah sepeda motor yang diduga kuat milik “pengerit” (pengepul BBM) meledak dan ludes terbakar sesaat setelah melakukan pengisian Pertalite. 

Insiden ini kembali menyingkap tabir gelap praktik modifikasi tangki ilegal yang mengabaikan keselamatan demi pundi-pundi rupiah.

Saksi mata di lokasi kejadian menggambarkan suasana mencekam saat percikan api muncul dari area mesin sesaat setelah pengendara mencoba menghidupkan motor. 

Kondisi motor yang sempat terjatuh membuat uap bensin yang meluber langsung menyambar, menciptakan bola api yang menjilat hingga ke atap area pengisian.

“Kejadiannya sangat cepat. Begitu motor jatuh dan distarter, api langsung menyambar. 

Orang-orang lari berhamburan karena takut SPBU meledak total,” ujar salah satu warga di lokasi.

Berdasarkan pantauan di lapangan, bangkai kendaraan tersebut menunjukkan indikasi kuat adanya modifikasi sistem tangki tidak standar. 

Praktik “ngerit” dengan memperbesar kapasitas tangki secara rakitan memang marak terjadi, namun seringkali mengabaikan aspek kelistrikan dan penguapan bahan bakar.

Modifikasi ini bukan sekadar pelanggaran administrasi, melainkan sabotase keselamatan publik. Sistem yang tidak kedap dan instalasi kabel yang serampangan di dekat tangki rakitan menjadi kombinasi maut yang siap meledak kapan saja.

Darurat Pengawasan di Area SPBU,Insiden ini memicu kritik tajam terhadap pengawasan di area SPBU. 

Meski petugas sigap memadamkan api menggunakan APAR sebelum menyambar tangki pendam, pertanyaan besar tetap tertuju pada legalitas kendaraan yang dilayani: Mengapa kendaraan dengan modifikasi kasat mata masih diizinkan mengisi BBM?

Sejauh mana ketegasan pihak SPBU dan aparat dalam menindak para “pengerit” yang jelas-jelas merugikan masyarakat umum?

Aktivitas “pengerit” kini bukan lagi sekadar isu kelangkaan BBM, melainkan ancaman nyata bagi nyawa konsumen lain. 

Kerugian ekonomi akibat antrean panjang kini ditambah dengan risiko maut akibat penggunaan kendaraan yang tak laik jalan.

 

Analisis Singkat: Kejadian ini harus menjadi momentum bagi pihak berwenang di Bangka Tengah untuk melakukan razia besar-besaran terhadap kendaraan modifikasi di setiap SPBU, sebelum jatuh korban jiwa dalam “bom waktu” berikutnya.

(Tim/YPH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *