
Penulis[Yopi Herwindo]
PANGKALPINANG – Di bawah langit Negeri Laskar Pelangi yang menyimpan rahasia dalam setiap jengkal tanahnya, sebuah getaran kolektif mulai membumbung. Kemarin, dalam sebuah ruang yang penuh dengan sapa dan tatap, hampir lima puluh jiwa berkumpul—bukan sekadar duduk dalam seremoni, melainkan menanam benih kesadaran dalam pertemuan penyuluhan yang digagas oleh Koperasi Almaster Asakawa Bangkit.
Pertemuan ini menjadi saksi betapa “bangkit” bukan sekadar kata kerja, melainkan sebuah dialektika antara harapan dan tindakan.
Guru Nasir, sosok yang menjadi suluh dalam Almaster, menyampaikan sebuah narasi filosofis tentang kemandirian. Baginya, Almaster Asakawa bukan sekadar entitas ekonomi, melainkan sebuah wadah pengabdian. Ia membayangkan sebuah ekosistem tempat masyarakat dari lintas kabupaten dan kota meleburkan peluh dalam harmoni usaha.
Dari gemuruh mesin di jasa pertambangan dan alat berat, hingga ketenangan hijau perkebunan rakyat; dari riak air perikanan hingga denyut nadi peternakan—semuanya dirancang untuk menjadi urat nadi ekonomi kerakyatan yang mandiri.
“Kita tidak hanya sedang membangun bisnis, kita sedang membangun martabat,” ungkap Guru Nasir dengan nada yang sarat akan makna mendalam.
>
Daulat di Atas Tanah Sendiri,Filsafat perjuangan Almaster Asakawa berpijak pada satu pilar utama: Kedaulatan. Langkah konkret kini tengah ditempuh, mulai dari perapian legalitas hingga penyusunan strategi untuk meruntuhkan dinding penghambat ekonomi yang selama ini membelenggu rakyat kecil.
Visi besar yang diusung adalah mengembalikan hakikat kepemilikan. Guru Nasir menegaskan bahwa masyarakat harus menjadi tuan di tanahnya sendiri—berdaulat atas tanah, kekayaan alam, kebun, hingga hamparan laut di seluruh pelosok Kampung Babel.
Dari Rakyat, Oleh Anggota, Untuk Sejahtera,Prinsip dasar koperasi dikembalikan pada khitahnya: sebuah gerakan yang dikelola langsung oleh tangan-tangan masyarakat. Anggota bukan sekadar objek, melainkan subjek yang menentukan arah nasibnya sendiri.
Di tangan Almaster Asakawa, ekonomi bukan lagi tentang akumulasi modal segelintir orang, melainkan tentang distribusi kesejahteraan yang merata.
Ini adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa setiap kekayaan bumi Bangka Belitung kembali membasahi tenggorokan mereka yang menjaga tanahnya dengan setia.
Ketika mentari terbenam di ufuk barat kemarin, pertemuan itu berakhir, namun api semangatnya baru saja tersulut.
Almaster Asakawa Bangkit kini tengah melangkah, membawa mimpi tentang Babel yang tidak hanya kaya secara materi, tetapi juga merdeka secara jiwa dan ekonomi.
