Lestarikan Sejarah Kota Mentok, Buku Tragedi Perang Dunia II Resmi Diluncurkan dan Dihibahkan

MENTOK, BANGKA BARAT – Sebuah langkah penting dalam upaya pelestarian literasi sejarah lokal terjadi di Kota Mentok. Buku berjudul “Tragedi Perang Dunia II di Kota Mentok dalam Kilasan Sejarah” resmi diluncurkan pada Rabu, 7 Januari 2026.

Karya ini merupakan kolaborasi apik antara Syarifudin Isa selaku penulis dan Samuel Then sebagai produser.

Acara peluncuran ini ditandai dengan aksi nyata berupa hibah buku yang diserahkan langsung kepada Farouk Yohansyah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat.

 

Caption: Samuel then produser

Dalam sambutannya, Samuel Then menekankan bahwa motivasi utama proyek ini adalah kegelisahan atas minimnya dokumentasi tertulis. 

Selama ini, sejarah Mentok lebih banyak didominasi oleh tradisi lisan (cerita mulut ke mulut).

“Mentok dikenal sebagai kota sejarah, namun kita butuh bukti tertulis agar identitas ini tidak pudar. 

Saya mengapresiasi Bapak Syarifudin Isa yang memiliki data dan alur sejarah yang sangat kuat, terlebih latar belakang keluarga beliau di mana ayahnya adalah fotografer di masa perang,” ujar Samuel. Ia juga membocorkan rencana besar untuk membawa konten buku ini ke ranah layar lebar atau media elektronik agar sejarah Mentok dapat diakses secara masif oleh generasi mendatang.

 

Caption:Syarifudin Isa penulis buku sejarah

Syarifudin Isa, sang penulis, memberikan pandangan mendalam mengenai filosofi museum dan catatan sejarah. 

Baginya, buku ini bukan sekadar deretan kata, melainkan jembatan silsilah dan bukti peradaban.

“Museum dan catatan sejarah adalah bukti konkret asal-usul kita. Ini adalah cara kita menunjukkan bahwa kita berasal dari peradaban yang maju. Tanpanya, anak cucu kita akan kehilangan jejak ‘darah’ atau silsilah keluarga mereka,” tutur Syarifudin.

Terkait pelaksanaan acara, Syarifudin memberikan klarifikasi mengenai ketidakhadiran pihak pemerintah daerah dalam seremoni tersebut. Ia menjelaskan bahwa hal itu murni karena faktor teknis undangan yang mendesak (tergesa-gesa) sehingga berbenturan dengan agenda pemerintah. Ia juga menegaskan bahwa seluruh proses pengerjaan buku ini dilakukan secara mandiri dan swadaya.

Menerima hibah buku tersebut, Farouk Yohansyah menyatakan dukungan penuhnya secara prinsipil. Ia menilai kehadiran buku ini sangat relevan dengan tugas pokok dinas yang dipimpinnya, khususnya di bidang perpustakaan dan kearsipan.

“Kami memiliki koleksi dokumen yang cukup banyak untuk mendukung penulisan sejarah seperti ini. 

 

Buku ini akan kami masukkan ke dalam kategori Koleksi Khusus atau Buku Dokumenter Referensi, sehingga menjadi khazanah sejarah Bangka Barat yang terjaga,” jelas Farouk.

Ia berharap inisiatif dari Samuel Then dan Syarifudin Isa dapat memicu penulis lokal lainnya untuk mengeksplorasi potensi sejarah Bangka Barat yang masih sangat luas. 

Farouk juga membuka pintu kolaborasi bagi para penulis untuk memanfaatkan bahan sejarah yang ada di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.

 

Kehadiran buku “Tragedi Perang Dunia II di Kota Mentok dalam Kilasan Sejarah” diharapkan menjadi sumbangsih berharga bagi masyarakat Bangka Barat agar lebih memahami dan mencintai identitas kotanya sebagai salah satu pilar sejarah di Indonesia.

 

(Yopi Herwindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *