Kala Desa Tetangga Panen Rambutan Dan Duren, Oknum di Desa Limbung Justru Memanen Tanah Negara

BN16 BANGKA.COM

 

PENULIS: YOPI HERWINDO

 

JEBUS — Ketika ufuk 2025 mulai meredup di cakrawala Bangka Barat, sebuah anomali menyapa penciuman. Di saat desa-desa tetangga merayakan wangi legit durian yang jatuh ke bumi atau merah meronanya kulit rambutan yang menggelayut di dahan, Desa Limbung justru berselimut aroma anyir keserakahan.

 

Di sana, musim bukan lagi soal perputaran surya atau jatuhnya rintik hujan. Musim di Limbung adalah tentang “Musim Jual Lahan”.

 

Luka di Atas Hamparan Hijau,Bumi yang seharusnya menjadi sandaran hidup bagi anak cucu, kini tercabik oleh tangan-tangan dingin para oknum tak bertanggung jawab.

 

Tanpa nurani, jengkal demi jengkal tanah negara dan ulayat dipindahtangankan layaknya komoditas pasar gelap.

 

Hutan yang meranggas bukan karena kemarau, melainkan karena syahwat mafia tanah yang menari-nari di atas ketidakberdayaan aturan.

 

“Tanah kami bukan buah yang bisa dipetik lalu dijual habis. Ia adalah raga kami. Namun kini, raga itu sedang dipreteli oleh mereka yang berlindung di balik bayang-bayang kekuasaan,” lirih suara masyarakat yang terselip di antara deru angin perkebunan.

>

Mengetuk Pintu Keadilan di Tahun yang Baru

Menjelang fajar 2026, sebuah harapan besar dilarungkan ke muara keadilan.

 

Masyarakat Desa Limbung tidak lagi menuntut panen raya, mereka menuntut ketegasan.

 

Mata rakyat kini tertuju tajam kepada para penjaga gerbang hukum:

 

* Kejati Pangkalpinang & Kejari Bangka Barat: Diharapkan menjadi pedang yang memutus rantai administrasi gelap.

 

* Polda Bangka Belitung & Polres Bangka Barat: Diharapkan menjadi tameng yang meringkus para mafia tanpa pandang bulu.

 

* Dinas Kehutanan & Pihak Terkait: Diharapkan kembali mematok batas-batas kehormatan alam yang telah dilanggar.

 

Sebuah Ultimatum Moral,Tahun 2026 bukan sekadar pergantian angka di kalender bagi warga Limbung. Ia adalah garis batas antara tegaknya hukum atau hilangnya kedaulatan tanah kelahiran.

 

Mafia tanah mungkin bisa membeli kesunyian hari ini, namun suara rakyat yang menuntut keadilan tidak akan pernah bisa dibungkam.

 

Akankah fajar 2026 membawa kabar baik, ataukah Limbung akan terus limbung diterjang badai keserakahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *