BN16 BANGKA.COM
PANGKALPINANG – Ketika sang waktu perlahan melipat tirai tahun 2025, dan jemari angin mulai membelai ufuk menuju gerbang 2026, sebuah senandung harapan membubung tinggi dari sanubari para penggerak negeri di Bangka Belitung.
Di bawah naungan langit biru yang menyimpan sejuta mimpi, Guru Nasir, sang pelantang suara dari ALMASTER, menguntai kata lewat bait-bait yang menyentuh kalbu.
Beliau memotret realita pahit manisnya perjalanan tahun-tahun yang lewat—tentang masyarakat yang masih terhimpit di antara rimbunnya hutan produksi dan hutan lindung, sebuah batas yang sering kali menjadi sekat antara kesejahteraan dan ketidakpastian.
“Semoga di tahun 2026, tak ada lagi dusta yang bersembunyi di balik kata,” demikian petikan doa yang mengalir, merujuk pada harapan akan kejujuran antara pusat dan daerah. Ia merindukan fajar di mana masyarakat Bangka Belitung benar-benar menjadi tuan di tanahnya sendiri, berdaulat atas kekayaan alam yang Tuhan titipkan di perut bumi pertiwi.
Sejalan dengan semangat itu, keluarga besar PT. MSP dan CV. Asakawa Bangkit turut memanjatkan amin yang paling dalam.
Melalui sinergi yang terjalin, mereka berharap agar realisasi IPR (Izin Pertambangan Rakyat) dan WPR (Wilayah Pertambangan Rakyat) bukan sekadar wacana yang terbang dibawa angin, melainkan manifestasi nyata demi kemaslahatan umat.
Tahun 2026 disambut bukan hanya dengan kembang api yang berpijar sesaat, melainkan dengan komitmen untuk merajut kembali tali keadilan.
Agar setiap peluh penambang, setiap doa penjaga hutan, dan setiap langkah para pengusaha lokal, bermuara pada satu telaga: Kesejahteraan yang Berdaulat.
Selamat menyongsong tahun baru 2026. Mari kita lukis kanvas tahun depan dengan warna kejujuran, agar Bumi Serumpun Sebalai tetap bersinar, seindah mutiara di tengah samudera.
